Profesi web developer: Perlu atau tidak?

February 3rd, 2009 by juhara Leave a reply »

Pertanyaan tersebut timbul dibenak saya ketika selesai memasang WordPress pada blog ini. Dengan beberapa klik dan memberi infomasi seputar akses database, mengatur konfigurasi WordPress di server. Abrakadabra blog ini langsung jadi dalam waktu kurang dari 15 menit (itu sudah termasuk migrasi data blog lama ke blog baru). Web development sekarang benar-benar mirip fast food. Instan langsung jadi.


Saya teringat beberapa tahun lalu ketika menerima order pembuatan website. Sebelum mulai coding dirancang dulu layout user interfacenya, dirancang susunan tabel-tabel pada database, brainstorming desain web dengan web designer. Ketika sudah siap, mulai coding. Selama sesi coding ketika sesuatu tidak berjalan semestinya kode dipelototi baris demi baris mencari bug penyebabnya. Pada masa itu (dengan tenaga seorang programer dan web designer) sebuah proyek selesai paling tidak butuh waktu 1 bulan, terkadang malah lebih bila requirement ternyata berubah di tengah jalan.

Pada kondisi sekarang, dengan bertebarannya content management system (CMS) seperti Joomla, forum management seperti PHPBB atau vBulletin, atau blog misal WordPress, semua orang bisa membangun website, forum atau blog. Pengembangan web seolah bergeser dari milik para geek menjadi milik orang awam.

Agar kompetitif, web developer “dipaksa” beralih ke Joomla, PHPBB, WordPress dan lain-lain karena tuntutan customer yang menginginkan waktu pengembangan website sesingkat mungkin. 1 bulan bukan lagi waktu standar untuk pengembangan web. 1 minggu atau kurang adalah standar baru. Web developer yang tidak bisa mengembangkan website dalam waktu 1 minggu akan tergerus oleh kompetitor lain yang memanfaatkan Joomla, PHPBB dan lain-lain sebagai senjata.

Web developer banyak yang bergeser dari membuat website keseluruhan menjadi membuat modul dan ekstensi untuk Joomla, PHPBB atau WordPress.

Ada pengalaman menarik. Seorang teman saya merekrut web programmer baru untuk mengembangkan dan merawat website resmi kantornya. Tiap kandidat yang melamar diuji kemampuan pemrograman menggunakan PHP dan MySQL. Perintahnya cukup sederhana, kandidat diminta membuat pagination untuk menampilkan sejumlah data per halaman. Hasilnya: semua kandidat gagal.

Para kandidat ditanyai mengapa tidak mampu membuat program seperti yang diminta. Apakah karena mereka belum pernah membuat website? Bukan. Mereka sudah sering membuat website. Jawaban para kandidat adalah karena mereka terbiasa mengembangkan website menggunakan CMS seperti Joomla.

Jadi apakah sekarang web developer diperlukan?

Advertisement

3 comments

  1. Mpu Gondrong says:

    Betul, web developer ‘beneran’ seperti di persimpangan jalan. Saat CMS-CMS merebak, developer web bertebaran di sana-sini, persaingan menjadi tidak sehat. Bila yang dicari waktu, tentu CMS yg sudah jadi akan menang. Namun bila inovasi dan kekhususan, kemampuan pemrograman sesungguhnya baru teruji.

    Sekarang siapa yg peduli dengan kemampuan tersebut? Semua ingin cepat. Tidak heran kalo yg dijual saat ini bukan program, tapi jasa seperti instalasi dan perawatan. Kembalikan semua ke intinya: IT menjamin agar bisnis perusahaan berjalan lancar. Semua pihak, termasuk web developer, perlu menyesuaikan dengan paradigma ini. Program hanya prasyarat awal, selanjutnya bagaimana keuntungan atas penggunaan program tersebut diterima.

  2. genbu says:

    bicara soal web developer sedikit banyak saya setuju dengan yang diungkapkan kakak juhara, begitu juga dengan saudara mpu gondrong… sedikit menambahkan, saya sendiri merasanya juga aneh, saya bingung masuknya kemana ? web developer “beneran” atau yang tidak?

    kalo dibilang, CMS itu adalah hasil inovasi dari sebuah atau kumpulan para web developer yang bertujuan untuk memudahkan para end user dan developer lainnya membuat website dengan mudah, murah dan cepat. kalo secara gamblang web developer “dipaksa” menggunakan CMS itu sebenarnya tidak relatif, CMS itu kan bagi developer juga sebagai jalan singkat mendapatkan “uang” secepatnya, dan untuk end user sebagai cara termudah membuat web sendiri misalnya, serta bagi kien untuk memenuhi kebutuhan klien yang terkendala waktu misalnya. Jika menurut pengalaman anda dan mungkin saya sendiri, kandidat developer yang diuji ternyata gagal, berarti seharusnya masuk kelompok end user aja donk, bukannya web developer. end user ga wajib punya keahlian pemrograman yang tinggi (karena kebanyakan belajar sendiri) dan web developer wajib hukumnya punya keahlian pemrograman. karena sejujurnya saya sendiri juga masuknya sebagai end user semi web developer, jadi jika diuji secara pemrograman script pun masih bisa dikerjakan tanpa CMS, yang pada akhirnya terbengkalai dengan waktu yang cukup lama kan…. itu saya setuju, tetapi sebagai web developer, yaa setidaknya kita juga seharusya sudah mempersiapkan modul-modul atau men-develope sebuah CMS atau semi CMS karya kita sendiri donk, kan ada rasa kepuasan batin yang tidak terhingga…

  3. Infonya bagus, bermanfaat banget… saya boleh ijin mengutip artikel nya trus saya tampilin di blog saya ? terima kasih.

Leave a Reply