Reality show “Termehek-mehek”: Tipuan atau sungguhan?

Saya pribadi tidak senang menonton acara ini. Isinya hampir selalu adegan orang berkelahi atau beradu mulut. Tapi istri saya senang bukan main menonton acara ini, tiap malam Minggu dan malam Senin tidak pernah absen menontonnya. Kadang saya sampai jengkel karena terkadang istri saya lupa dengan tugasnya sebagai ibu.

Saya berpendapat bahwa acara reality show Termehek-mehek tersebut tipuan. Istri saya berpendapat lain. Ia percaya acara tersebut tidak direkayasa. Saya pribadi sendiri percaya acara tersebut diatur script dengan argumen-argumen berikut ini.

Waktu penelusuran tidak logis

Acara tersebut selalu menampilkan adegan berisi kronologis penelusuran sebuah kasus yang diajukan klien. Host acara tersebut beserta krunya mengunjungi orang-orang untuk dimintai keterangan terkait orang yang yang dicari. Dengan jadwal acara dua kali seminggu dengan kasus yang berbeda, acara tersebut hanya punya 7/2=3.5 hari untuk menyelesaikan satu masalah klien. Hampir dalam tiap episode yang saya perhatikan, host dan kru acara tersebut berhasil menemukan orang dicari oleh kliennya. Menelusuri jejak dan menemukan seseorang yang telah lama hilang dalam waktu 3.5 hari sungguh kerja yang tidak ringan.

Host acara tersebut sendiri dalam beberapa kesempatan sempat tampil di acara gosip di TV. Ini bukti bahwa pembawa acaranya masih sempat menikmati kehidupan pribadinya. Jadi tidak seluruh waktunya dipergunakan untuk melakukan penelusuran jejak orang hilang. Jika host dan kru hanya bekerja 8 jam sehari, maka total hari yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah klien adalah 1/3×3.5 hari=1.167 hari atau 1 hari lebih sedikit.

Seandainya acara tersebut tidak direkayasa, saya tidak bisa bayangkan betapa malunya intelijen polisi dengan jaringannya yang sangat rapi gagal menemukan buronan dalam waktu berbulan-bulan. Kalau acara tersebut tidak direkayasa, kita minta saja kru acara Termehek-mehek menemukan buronan polisi.

Sudut pandang kamera tidak logis

Saya bukan kameramen tapi saya melihat hal ganjil. Jika Anda perhatikan, pengambilan gambar oleh kameramen terlihat stabil meski disekelilingnya tampak sedang terjadi pertengkaran hebat hingga berbuntut perkelahian. Bandingkan dengan kameramen yang sedang meliput kejadian kerusuhan dalam jarak dekat. Gambar liputannya hampir selalu tidak stabil, berguncang ke sana-sini, karena kameramen berusaha terhindar dari amuk massa.

Secara psikologis, jika Anda marah berat sementara wajah Anda tengah disorot oleh kamera, saya yakin, kamera akan menjadi salah satu objek yang menjadi sasaran kemarahan Anda.

Di acara reality show tersebut, hal sebaliknya terjadi. Meski suasana sedang tegang, tidak pernah ada adegan kamera dirusak oleh orang-orang yang sedang berkelahi di adegan tersebut seolah-olah ada kesepakatan “Silakan menampilkan adegan perkelahian semirip mungkin dengan aslinya, tapi jangan pernah mengganggu kameramen apalagi merusak kameranya, karena harganya mahal”.

Tiap kali saya jelaskan argumen tersebut ke istri saya, dia diam saja dan terus saja menonton acara Termehek-mehek itu. Argumennya singkat dengan mengutip plesetan pepatah terkenal, “Anjing menggonggong, Termehek-mehek berlalu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>