Sumpah Pemuda, Facebook dan SMS

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Anda orang Indonesia yang paham sejarah seharusnya tahu kalimat di atas. Sumpah Pemuda yang diikrarkan para pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928 adalah salah satu tonggak bersejarah lahirnya bangsa Indonesia. Itu 80 tahun silam.

Lalu apa hubungannya Sumpah Pemuda dengan Facebook dan Short Messaging Service (SMS)?

Apakah kita menjunjung tinggi Bahasa Indonesia?

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Saya amati sejak teknologi SMS berkembang luas, masyarakat memiliki kecenderungan untuk menulis pesan teks dengan cara menyingkat kata. Ini bisa dipahami karena keterbatasan teknologi SMS yang membatasi jumlah karakter yang bisa dikirim dalam tiap pesan dan karena masih mahalnya teknologi ini beberapa tahun lampau. Orang berusaha menulis sesingkat-singkatnya tapi mencoba mengirim informasi sebanyak-banyaknya. Saya jadi ingat layanan Telegram milik PT. Pos Indonesia pada masa lampau dulu.

Berikut ini petikan pesan yang saya terima di telepon selular saya dari seorang rekan bisnis.

Unt permintaan bp adlh sbb: Zybosoft 4port @3,250,000 Zybosoft 8port @4,500,000 Zybosoft 16port @rp7,900,000 Jika ad pertyaan bs hub sy,tq

Membaca SMS dengan singkatan-singkatan yang aneh tersebut (lebih aneh lagi otak saya masih mampu memahami maknanya) saya teringat akan guru Bahasa Indonesia saya di sekolah dulu. Beliau pasti bertanya-tanya apakah ia, sebagai seorang guru Bahasa Indonesia, gagal menjalankan profesinya untuk mendidik rakyat Indonesia melek Bahasa Indonesia.

Lebih aneh lagi bila Anda membaca komentar-komentar yang dikirim melalui situs jejaring sosial Facebook. Segala macam tipe manusia tumpah-ruah dengan segala macam bahasa.

,, kuUh ingInd kaUu taU ishY haTikuH ,, kaUlach yNk t’akHyr dlamb idhupkuu .. Tagh adha ynk laind hanYah kQamUh ,, taGh Pnach adha .. Taghkand PnaCh adha ..

Tulisan kacau di atas adalah komentar yang ditulis keponakan perempuan saya di Facebook. Saya masih bisa memahami maknanya walau cukup susah payah. Dia masih pelajar SMP pada saat tulisan ini dibuat. Rekan-rekannya di Facebook pun memiliki kebiasaan serupa dengan keponakan saya tersebut. Kebiasaan menulis dengan bahasa kacau.

Wajah gagal pendidikan Indonesia?

Lalu apakah potret ini adalah gambar kegagalan pendidikan Bahasa Indonesia? Saya tidak tahu dan merasa tidak berkompeten untuk berkomentar lebih jauh. Rakyat Indonesia sendiri tidak menghargai bahasanya, melanggar sumpah yang diikrarkan pendahulunya, lalu bagaimana bisa kita menghargai diri kita sendiri?

Seandainya bahasa Indonesia diklaim negara tetangga sebagai bahasanya, paling-paling kita marah-marah, mengutuk tindakan itu. Lalu apa? Toh, kita tidak pernah peduli Bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>