Hari Pahlawan, Che Guevara dan Iwan Fals

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari ini tepat 64 tahun sejak pertempuran besar di Surabaya melawan penjajah Belanda. Hari dimana pertempuran heroik rakyat Surabaya terjadi.

Apakah Hari Pahlawan masih bermakna?


Saya amati orang-orang sekeliling saya hari ini. Sepertinya tidak ada lagi yang peduli tentang makna Hari Pahlawan. Orang Indonesia terlalu sibuk untuk mengurusi Hari Pahlawan. Mereka punya banyak urusan yang harus dikerjakan, mereka punya banyak utang yang harus dilunasi, mereka punya keluarga yang harus diberi nafkah.

Kalaupun ada yang peduli, itu sebatas acara seremonial semata. Di Surabaya, peringatan Hari Pahlawan justru diisi dengan pagelaran musik. Jauh dari kesan renungan tentang kerja keras para pendahulu kita merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Di lingkungan Pemkot Surabaya, Hari Pahlawan dikenang sebatas mengganti seragam kerja dengan pakaian ala jaman perjuangan. Itu saja, tidak lebih.

Pahlawan Nasional tidak menarik

Tidak sulit menemukan foto Che Guevara atau Iwan Fals di kaos-kaos yang dipakai remaja Indonesia. Tidak sulit juga menemukan stiker-stiker bergambar Guevara atau Iwan Fals menempel di sepeda motor atau mobil. Tapi coba cari anak muda yang mengenakan kaos bergambar pahlawan nasional, gambar Pangeran Diponegoro misalnya.

Mengapa pahlawan nasional Indonesia tidak menarik minat anak muda Indonesia? Mengapa mereka justru bangga mengenakan simbol-simbol bergambar Che Guevara yang jelas bukan bagian rakyat Indonesia, bukan pula pahlawan nasional Indonesia, tidak pula berjuang membela rakyat Indonesia?

Mungkin di pikiran anak muda Indonesia, gambar pahlawan nasional tidak gagah, tidak keren atau dalam istilah anak muda Indonesia sekarang, jadul (jaman dulu).

Zen Rachmat Sugito menulis, “Para pahlawan tidak pernah dilahirkan tapi diciptakan. Mereka diciptakan mula-mula dan pertama tidak untuk dijadikan role-model agar diteladani atau ditiru namun untuk meneguhkan narasi perjuangan nasional merebut kemerdekaan” (Saga Para Pahlawan, Jawa Pos, 8 November 2009).

Kita dijajah bangsa sendiri

Saya rasa pendapat Zen Rachmat Sugito ini ada benarnya. Pahlawan nasional Indonesia hanya diciptakan untuk menegaskan perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah kolonial Belanda di masa silam. Saya rasa inilah alasan sesungguhnya mengapa pahlawan nasional Indonesia tidak menjadi role-model bagi anak muda Indonesia. Kita tidak lagi melawan penjajah dari bangsa lain.

Saat ini penjajah kolonial Belanda tidak ada lagi, digantikan oleh penjajahan yang datang dari bangsa kita sendiri. Penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah kita, parlemen kita, institusi hukum kita.

Kita dijajah oleh pemerintah, institusi hukum, parlemen korup yang mengebiri hak-hak rakyat Indonesia untuk memperoleh perlakuan adil dihadapan hukum, hak memperoleh penghidupan yang layak, hak mendapat perawatan kesehatan yang layak tanpa melihat kondisi ekonomi orang per-orang.

Jika dulu kita berani dan lantang melawan kekejaman pemerintahan kolonial Belanda, kita mungkin dihadiahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintahan Indonesia, tapi jika saat ini Anda lantang melawan kekejaman pemerintah Indonesia, Anda dituduh makar.

Anak muda kita tidak lagi punya panutan untuk diteladani karena yang lebih tua tidak mampu menjadikan diri mereka role-model untuk ditiru. Jika kemudian Iwan Fals lantang menyanyikan protesnya lewat lagu, atau Che Guevara yang nun jauh di sana berperang untuk membela rakyat miskin, anak muda Indonesia merasa menemukan figur untuk ditiru, figur seorang pahlawan.

Penutup

Kita rindu pahlawan. Orang yang dengan rendah hati, bersahaja, konsisten dan jujur membela rakyat Indonesia, bukan karena apa-apa, hanya karena dia cinta dan merasa bagian dari rakyat yang dibelanya.

Sayangnya, sepertinya kita belum menemukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>