Semua cinta korupsi

9 Desember lalu, semua orang gegap gempita turun ke jalan berdemo menentang korupsi. Mengapa di Indonesia, korupsi susah diberantas? Menurut saya itu karena kita semua sayang dan cinta dengan hal yang bernama korupsi. Kita hidup karena korupsi dan melakukannya dengan bahagia.

Mahasiswa yang paling rajin demo menentang korupsi. Coba perhatikan perilakunya di dalam kampus. Sering mencontek tugas kuliah, titip absen, datang telat, membayar orang untuk mengerjakan Tugas Akhir.

Mencontek hasil kerja orang lain sama saja mencuri ide dan hasil kerja orang lain. Hasil kerja orang lain lalu diklaim sebagai hasil kerja sendiri. Korupsi tidak lain adalah perbuatan maling, sama halnya dengan perbuatan mencontek pekerjaan orang lain. Mencontek hasil kerja orang lain sama saja mengkorupsi hak orang lain untuk mendapatkan penghargaan yang layak atas usahanya.

Mahasiswa sering titip absen. Mereka tidak masuk tapi tetap ingin absensi perkuliahan terlihat rapi oleh dosen. Mirip kelakuan para koruptor, di luar tampak gagah berwibawa, di dalam jelas busuk dan culas. Padahal para mahasiswa, terutama mahasiswa PTN, sebagian biaya kuliahnya di subsidi oleh uang rakyat. Uang rakyat, mereka korupsi dengan cara tidak masuk kuliah untuk urusan tidak jelas.

Mahasiswa sering masuk kuliah telat. Mereka sudah mengkorupsi waktu orang lain, termasuk waktu dosen yang sudah susah payah datang tepat waktu agar mahasiswanya bisa mendapat tambahan ilmu lebih banyak.

Perhatikan para pendemo yang menyuarakan penolakan atas korupsi di jalan hingga yang memblokir jalan tol. Mereka sendiri melakukan korupsi. Mereka mengkorupsi hak orang lain untuk memanfaatkan fasilitas umum yakni jalan raya. Mereka mengkorupsi hak orang lain untuk mencari nafkah penghidupan. Berapa banyak truk pengangkut barang komoditas yang terpaksa berhenti di tol karena tol di blokir massa pendemo? Truk-truk itu adalah salah satu mata rantai perputaran roda ekonomi yang menafkahi banyak orang. Lalu para pendemo dengan lantang, gagah dan heroiknya menentang korupsi? Omong kosong. Tak hanya berdemo, di beberapa tempat mereka bahkan melakukan pengrusakan, entah itu tempat usaha, fasilitas umum. Mereka mengkorupsi hak orang lain untuk hidup aman.

Aparat pemerintahan dan parlemen melakukan korupsi untuk hidup. Kalau mereka tidak korupsi mereka akan mati. Mati karena tidak terbiasa hidup dengan gaji pas-pasan. Mati karena tidak mampu membeli rumah mewah. Mati karena tidak memiliki uang untuk dihambur-hamburkan. Mati karena uang pribadi mereka telah habis untuk biaya kampanye pemilu.

Kita semua cinta korupsi. Kita bisa hidup karena korupsi. Oleh karena itu, korupsi harus terus dipupuk subur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>