Radikalisme? Mengapa tidak?

Bom kembali meledak. Kali ini menyentak di sebuah masjid Kepolisian Cirebon. Beberapa orang terluka dan pelakunya tewas. Orang lalu sontak mengutuk aksi tersebut.

Mengapa orang bisa bertindak radikal? Mengapa orang menjadi teroris? Apakah radikalisme bisa dicegah? Pertanyaan tersebut coba dijawab dalam sebuah acara talkshow di sebuah TV swasta.

Ada ide dilontarkan disana bahwa sebaiknya pencegahan dilakukan di pengajian-pengajian yang materinya berisi agitasi dan kekerasan. Badan Intelijen Negara dan Polisi diminta untuk menyusupinya dari dalam.

Saya lalu berpikir. Dangkal sekali cara penyelesaian masalah radikalisme seperti itu. Seolah-olah radikalisme tumbuh di pengajian-pengajian, seolah-olah radikalisme identik dengan Islam. Orang bisa bertindak radikal tanpa perlu menganut agama Islam.

Organisasi Papua Merdeka (OPM) muncul dan menjadi gerakan radikal di Papua. Mereka radikal, mereka bukan muslim. IRA menjadi duri dalam daging bagi pemerintah Inggris, mereka radikal dan mereka bukan muslim.

Radikalisme bisa tumbuh dimana-mana. Radikalisme bisa tumbuh di kepala tiap individu, tak peduli bagaimana ideologi dan agamanya.

Radikalisme tumbuh dari benih ketidakadilan, kemiskinan, keterpurukan.

Orang Papua radikal menyerang infrastruktur Freeport karena ketidakadilan. Tanah leluhur mereka kita ekploitasi tanpa menyisakan apa-apa bagi mereka. Mereka masih sama dengan dulu, terbelakang, tidak berpendidikan. Itu ketidakadilan. Itu benih radikalisme.

Anda mau radikalisme lenyap? Berantas dulu ketidakadilan. Hapus kemiskinan. Lenyapkan keterpurukan.

Omong kosong, polisi hendak menghapus radikalisme bila mereka tegas memberangus aksi kekerasan tapi melempem ketika berhadapan dengan kasus korupsi Century.

Omong kosong, mencegah radikalisme bila kita gencar kampanye anti-pornografi, menghabiskan dana milyaran untuk membuat UU pornografi tapi DPR malah sibuk membuka materi porno ditengah sidang paripurna.

Omong kosong, memberantas radikalisme bila gedung sekolah-sekolah ambruk tak terurus dan DPR justru sibuk cari cara untuk merampok uang rakyat untuk gedung baru. Itu ketidakadilan. Itu benih radikalisme.

Omong kosong memberangus radikalisme bila Gayus Tambunan saat ini tak lagi jelas rimbanya sementara pengemplang pajak foya-foya bersama aparat hukum.

Omong kosong membunuh radikalisme bila TKI kita dibunuh di mana-mana dan pemerintah kita tidak berbuat apa-apa.

Radikalisme adalah ekspresi perlawanan ketidakadilan dan keterpurukan.

Lalu apa salahnya radikalisme?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>