Memori Mei 1998

Ketika memasuki tanggal 12 Mei, saya selalu terkenang ke memori di tahun 1998. Saat itu saya masih mahasiswa. Pada awal-awal 1998, demo mulai marak di mana-mana akibat merosotnya nilai tukar Rupiah yang menyebabkan gejolak ekonomi besar yang melanda kawasan Asia terutama Indonesia.

Awalnya saya tidak terlalu ambil pikir masalah merosotnya nilai tukar Rupiah ini. Pikiran saya terlalu terkuras untuk urusan kuliah. Sebagai mahasiswa yang berasal dari keluarga yang tingkat ekonominya biasa-biasa saja, lulus kuliah dengan baik adalah harga mati yang harus saya bayar sebagai wujud pertanggung-jawaban saya kepada orang tua yang telah bersusah payah membiayai kuliah saya.

Tapi lambat laun, ketika harga-harga barang mulai melonjak, segala sesuatu mulai berubah drastis. Jika di tahun 1996, saya masih dapat membeli sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur seharga Rp 600, perlahan menjadi Rp 800, naik lagi menjadi Rp 1200, naik lagi hingga akhirnya mencapai Rp 5000.

Sebagai mahasiswa rantau yang belum punya penghasilan pribadi, saya bergantung pada kiriman uang dari keluarga. Di tahun 1996, kiriman uang 350 ribu per bulan sudah cukup menghidupi saya selama sebulan. Itu pun masih tersisa, yang saya gunakan untuk menabung. Perlahan-lahan ketika ekonomi Indonesia tergerus inflasi gila-gilaan, 350 ribu semakin sulit memenuhi kebutuhan selama sebulan.

Saya cukup tahu diri untuk tidak meminta tambahan uang kepada orang tua, karena saya tahu posisi mereka pun sulit. Maka 1997-1998 menjadi awal pergolakan bagi saya pribadi. Pergolakan untuk survive. Ini bukan untuk cari nama, agar terkenal. Tidak! Ini adalah aksi yang digerakkan insting bertahan hidup. Dengan perut lapar, saya turun ke jalan untuk demonstrasi.

Saat itu, tiap hari hampir semua aktifitas perkuliahan lumpuh karena dosen dan mahasiswa turun berdemonstrasi. Berikutnya saya tidak ingat lagi, berapa kali saya ikut gerakan demonstrasi. Berteriak-teriak saat demonstrasi membantu saya melupakan rasa lapar, suara saya serak tiap hari tapi saya puas meski tak ada sepeser pun uang yang saya terima untuk seharian berjemur di bawah terik matahari. Yang ada di pikiran saya hanya satu, bahwa saya melakukannya untuk menolong diri saya sendiri.

Dan akhirnya pemerintahan Suharto tumbang.

Bertahun-tahun setelahnya, saya selalu terkenang betapa hebat pengaruh perut lapar (bila terjadi secara masif). Perut lapar masif selalu mampu menorehkan sejarah baru.

Pemerintahan yang mampu bertahan lama harus mampu membuat rakyatnya kenyang.

One thought on “Memori Mei 1998

  1. Penuh dengan perjuangan ya Ron,,, alhamdulillah skrg dah menjadi individu yg sukses…..gimana kabarx???

Leave a Reply to eti suharni Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>