Rokok: Industri penuh ironi

Saya termasuk perokok, walau bukan perokok berat. Saya biasa merokok sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh keluarga. Di antara kepulan asap rokok, sering terpikir di benak saya, betapa industri penghasil rokok adalah industri penuh ironi.

Ironi isu kesehatan

Sudah jelas bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan. Di tiap bungkus rokok yang Anda beli tercantum peringatan bahaya merokok: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan ganguan kehamilan dan janin”. Ukurannya cukup mencolok.

Ironisnya, jumlah perokok terus bertambah terutama di negara-negara berkembang, demikian laporan statistik perokok WHO menyebutkan. Laporan WHO juga menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam jumlah populasi perokok. Rata-rata 50%-67% populasi laki-laki di Asia adalah perokok. Statistik lain tentang perokok di Indonesia dapat Anda baca di Website Tobbaco Free Center.

Sebagian ulama MUI bahkan mengharamkan rokok karena bahayanya terhadap kesehatan. Tapi sepertinya kaum perokok cuek bebek. Entah tidak tahu atau tidak peduli.

Ironis lagi, pelaku industri rokok banyak menjadi sponsor kegiatan-kegiatan olahraga yang notabene kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan. Olahraga sepak bola, volly adalah beberapa kompetisi di Indonesia yang dibiayai oleh industri rokok.

Iklan rokok di antara kompetisi olahraga seolah berujar: “Ayo hisap rokok A supaya Anda hebat dan sehat seperti para olahragawan yang sedang berlaga”.

Faktanya jumlah dana yang dibelanjakan pemerintah Indonesia untuk perawatan penyakit akibat rokok adalah sebesar 11 triliun rupiah (Sumber :Website Tobbaco Free Center).

Ironi isu cukai tembakau dan belanja rokok masyarakat Indonesia

Cukai tembakai 2011 untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) dengan harga jual di atas Rp660/batang adalah sebesar Rp 325/batang. Pemerintah sendiri menargetkan pendapatan APBN 2011 dari cukai tambakau sebesar Rp 60.07 triliun (Sumber:Publikasi Kebijakan Cukai Hasil Tembakau 2011). Cukai Rp 60.07 triliun mencerminkan harumnya aroma tembakau bagi pemerintah. Tidak heran, fatwa MUI bahwa rokok haram tidak digubris pemerintah. Industri rokok adalah salah satu cash cow pemerintah untuk menggenjot pendapatan.

Pada 2004, total perokok di Indonesia adalah 57 juta orang. Jika tiap perokok belanja rokok 1 bungkus sehari dengan harga rata-rata rokok Rp 10,000/bungkus, maka dalam sehari, uang sebanyak 570 milyar rupiah dibakar jadi asap oleh perokok di Indonesia.

Ironi isu pendidikan

Industri rokok cukup banyak menggelontorkan dana ke masyarakat melalui beasiswa pendidikan di berbagai institusi pendidikan terbaik dan ternama. Targetnya adalah merekrut orang-orang cerdas masuk ke industri rokok.

Ironis bahwa orang-orang cerdas penerima beasiswa tersebut akan menjadi para pekerja yang menyokong industri perusak kesehatan. Beberapa rekan saya semasa kuliah sangat bangga bila menerima beasiswa dari pelaku industri rokok atau diterima menjadi karyawan di industri rokok terkenal. Sepertinya mereka lupa bahwa beasiswa atau gaji yang mereka terima berasal dari uang buruh-buruh kasar, kuli, tukang becak yang tiap hari setor tubuh mereka untuk diracuni nikotin.

Ironi isu tenaga kerja

Industri rokok merekrut banyak sumber daya manusia. Industri ini menghidupi petani tembakau, broker komoditas tembakau, karyawan pabrik pembuat rokok, pedagang-pedagang asongan. Pertanian tembakau menggerakkan industri pupuk, industri alat pertanian. Pabrik rokok menggerakkan industri transportasi, industri permesinan dan industri hilir lain.

Ironis bahwa industri pemicu kanker dan impotensi justru menjadi bagian penggerak ekonomi nasional.

Ironi isu lingkungan

Jika banyak orang berpikir, rokok hanya merusak diri sendiri atau orang di sekitar Anda. Pikir lagi. Konsumsi rokok melepaskan polutan ke udara terutama karbondioksida. Anda pikir mungkin jumlahnya tidak seberapa, tapi bayangkan sepertiga populasi di Indonesia melepaskan karbondioksida. Tentunya efeknya jauh lebih masif.

Di tahun 2008, produksi rokok di Indonesia adalah 165 milyar batang. Bayangkan sampah yang dihasilkan oleh 165 milyar puntung rokok tersebut. Sebatang rokok mengandung 4000 bahan racun dan pemicu kanker (karsinogenik). 165 milyar puntung tersebut bila dibuang sembarangan akan meracuni lingkungan.

Isu lain terkait produksi rokok itu sendiri. Luas lahan pertanian tembakau pada 2007 menurut Liputan khusus Kompas adalah 215000 hektar. Untuk membuat lahan seluas itu, kita harus memangkas luas hutan hijau kita yang sejatinya adalah paru-paru dunia.

Ironis, bahwa mahluk hidup harus bernafas dan tidak harus merokok sementara kita mengorbankan hutan untuk rokok. Tapi lebih ironis lagi adalah bahwa setelah memproduksi rokok yang merusak lingkungan, produsen rokok berlomba-lomba mengkampanyekan pentingnya go green. Produsen rokok di daerah Kudus misalnya mensponsori penanaman pohon trembesi.

Isu nasionalisme

Semua perokok yang membeli rokok, membayar cukai ke pemerintah. Jika TKI di luar negeri adalah pahlawan devisa, perokok adalah pahlawan cukai. Perokok berkorban uang dan nyawanya (untuk diracuni nikotin) demi menyokong pembangunan Indonesia, membiayai gaji PNS, membiayai pembangunan infrastruktur.

Lalu siapa bilang nasionalisme kita sudah luntur?

Akhir kata, selamat merokok!

One thought on “Rokok: Industri penuh ironi

  1. saya juga seorang perokok, namun bukan seorang pecandu rokok. yah hanya sesekali saja, jika kumpul sama temen-temen.
    ya rokok memang industri yang penuh ironi, namun apa sih yang tidak ironi di negeri ini.
    saya yakin bahwa orang yang merokok juga mengetahui ironi dari barang ini, buktinya mereka merokok karena mereka sebenarnya membencinya. benci sehingga ingin membakar gudang rokok dan merubuhkannya, namun apa daya, gudang rokok ngga bisa mereka bakar karena takut dihukum. karena ngga bisa membakar gudang, kenapa tidak membakar rokoknya saja, sedikit demi sedikit.

Leave a Reply to triasfahrudin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>