Nazaruddin, Demokrat dan pengalihan isu

Dugaan bahwa Nazaruddin terlibat kasus korupsi wisma atlet pada proyek SEA Games bukan barang baru lagi. Bahwa kemudian Nazaruddin bersembunyi di Singapura juga topik usang. Kasus dugaan pemalsuan dokumen yang melibatkan dia juga usang. Bahkan saking usangnya, Kepolisian akhirnya mengeluarkan SP3 untuk kasus Nazaruddin.

Media sebagai penggiring opini

Di era globalisasi komunikasi, pers adalah kunci utama transfer informasi dari pihak satu ke pihak lain secara masif.
Televisi telah menjadi kotak ajaib yang menghipnotis mayoritas keluarga di Indonesia. Saya rasa, sangat sedikit sekali keluarga yang hidup di perkotaan yang bebas dari cengkraman televisi.

Selain televisi, Internet dan koran adalah media efektif untuk menggiring opini publik. Ingat bagaimana Internet mampu mampu menggerakkan orang menjadi simpatik terhadap Prita dalam kasus keluhan ke sebuah rumah sakit?

Nazaruddin dan pentingnya pengalihan isu

Saya berpendapat bahwa sebaiknya Demokrat segera mengambil tindakan-tindakan untuk mengalihkan isu terkait korupsi wisma atlet ini. Sebagai mantan bendahara umum, posisi Nazaruddin sangat strategis. Dia mengetahui seluk beluk aliran dana yang keluar dan masuk ke tubuh Demokrat. Jika Nazaruddin sampai “bernyanyi sumbang”, pasti pusing Demokrat mendengar “lagu tak merdu”-nya. Jika urusan rumah tangga Demokrat sampai tergelar bebas di muka umum, aroma kecurigaan kasus Century (di mana ada dugaan bahwa ada aliran dana yang masuk ke beberapa partai) bisa kembali mencuat. Ini tentu tidak diinginkan.

Maka menjadi penting bagi Demokrat agar isu Nazaruddin ini bisa dilupakan orang. Untung bagi Demokrat, sebagai partai penguasa di negeri di mana penduduknya mudah terkena lupa ingatan (contohnya: Nunun Nurbaeti menderita amnesia jika berada di Indonesia, jika diluar Indonesia ia sembuh), jauh lebih mudah bagi Demokrat untuk meredam isu Nazaruddin dengan mengalihkan isu.

Mengendalikan media adalah kuncinya. Tapi bagaimana caranya?

Berita buruk adalah berita baik

Sudah jadi ironi di pers bahwa berita buruk adalah berita yang bagus. Itu psikologis manusia. Orang senang melihat orang lain menderita namun tidak ingin mengalami penderitaan. Orang akan gempar bila ada tetangganya menjadi tahanan polisi dalam kasus kejahatan. Orang tidak heboh bila tetangganya mendapat kebahagiaan.

Cara mengendalikan media yang paling gampang adalah dengan memberikan pers “berita baik”. Berita hakim tertangkap tangan menerima suap adalah berita baik. Berita anggota polisi ditembak adalah berita baik. Berita orang Islam ditangkap karena dituduh menjadi teroris adalah berita baik.

Berita bahwa anak-anak Indonesia menjadi pemenang Olimpiade Matematika atau Fisika bukan berita baik dan tidak terlalu menarik untuk disimak. Berita semacam ini hanya perlu diliput di halaman terdalam koran di sudut terpencil di halaman koran atau disiarkan di berita dini hari saat jam orang tidur.

Sebagai partai penguasa, Demokrat tentu secara tidak langsung, melalui SBY, mengendalikan Kepolisian, KPK, MA dan lain-lain yang notabene lembaga bawahan Presiden. Bisikan kader Demokrat sudah barang tentu akan terdengar lebih nyaring dibandingkan teriakan orang-orang miskin di Indonesia yang hidupnya pas-pasan (Pas lapar, pas tidak ada beras. Pas tidak punya uang, pas ada rentenir yang bersedia memberi utang berbunga selangit, dan lain-lain pas).

Kalau saya jadi Presiden, saya akan perintahkan KPK “Tolong KPK fokus ke hakim-hakim nakal.”. Maka ramailah hakim nakal gemar terima suap ditangkap KPK. Saya juga perintahkan untuk Kepolisian lebih intensif memburu orang-orang muslim yang penampilannya mirip Osamah Bin Laden. Maka ramailah berita Densus 88 menangkapi orang-orang bersorban dan berjenggot lebat.

Biasanya jika itu dilakukan, segera ruang-ruang di televisi, koran, Internet dipenuhi diskusi-diskusi tentang hakim-hakim nakal, terorisme.

Jika perhatian publik masih tertuju ke Nazaruddin, sebagai Presiden, saya akan pidato soal Capres 2014. Saya sebut bahwa istri dan anak saya tidak bersedia mencalonkan diri untuk maju menjadi calon presiden (tapi kalau dicalonkan boleh lah).

Harapannya, segera media akan meluncurkan berbagai acara diskusi untuk membahas pemerintahan dinasti.

Kalau sudah begini, sedikit legalah Demokrat, karena berada di luar radar wartawan. Wartawan itu kalau sudah tanya macam-macam bikin kepala pening.

KPK memble, Nazaruddin kece

Memang Nazaruddin pribadi belum dinyatakan ada kaitan dengan masalah dugaan korupsi Wisma atlet SEA Games. KPK sepertinya memble menghadapi Nazaruddin. Memanggil Nazaruddin untuk pulang saja tidak sanggup. Alasannya “Nazaruddin masih menunggu hasil check-up kesehatan”.

Lha, kaya nunggu angkot berangkat saja, pakai lama. Kalau saya sih check-up kesehatan di rumah sakit malah disuruh pulang dulu, soalnya masih beberapa jam lagi laporan hasil check-up selesai. Nazaruddin kan bisa pulang dulu, besok hasilnya di ambil, atau hasilnya bisa diambilkan anak buahnya.

KPK yang punya kekuasaan memanggil warga negara Indonesia saja memble dan ompong, apalagi Demokrat. Di benak Nazaruddin barangkali “Siapa ente manggil-manggil ane pulang? SBY aja gak bingung ane di Singapura”.

Ini bukti betapa kecenya Nazaruddin.

Isu korupsi – buah simalakama Demokrat

Perginya Nazaruddin ke Singapura (yang konon untuk berobat dan entah kembali atau tidak) pada saat panas dicecar pertanyaan seputar dugaan keterlibatannya dalam kasus Wisma atlet, memicu spekulasi bahwa ia sengaja menghindar. Dugaan keterlibatannya dipicu BAP Mindo Rosalina Manulang – yang kemudian diralat Mindo. Khusus untuk Mindo ini, saya agak aneh dengan orang ini. Masak jabatannya direktur marketing mengaku tidak tahu siapa pemilik perusahaan tempat dia bekerja? Jangan-jangan dia takut karena dalam ancaman.

Isu pemberantasan korupsi adalah isu sentral yang digembar-gemborkan Demokrat selama kampanye pemilu. Ini sangat kontras dengan sinisme yang berkembang di masyarakat mengenai kasus Nazaruddin.

Nazaruddin berjasa besar bagi Demokrat, Demokrat sungkan kepada orang ini. Maka memerintahkan Nazaruddin pulang pun tidak berani. Demokrat hanya bisa menghimbau Nazaruddin untuk kembali. Yang namanya himbauan itu bisa dituruti, bisa pula tidak. Karena keduanya tidak memberi sangsi apa-apa.

Dari pernyataan sikap Demokrat yang hanya berani mengeluarkan himbauan, bisa dirasakan pengaruh Nazaruddin sangat kuat.

Di lain pihak, kasus ini semakin menyeret turun kepercayaan masyarakat terhadap Demokrat. Dari survey Indo Barometer, kepuasan masyarakat terhdap kinerja pemerintah disebutkan menurun dan orang mulai rindu akan jaman Orde Baru pimpinan Soeharto. Bahkan karena nostalgia Orde Baru ini, keluarga Cendana kini tak lagi sungkan muncul ke publik. Buku tentang Soeharto dirilis baru-baru ini. Tommy Soeharto, mantan napi ini, bahkan sempat diberitakan diusung sebagai calon presiden oleh Partai Buruh.

Menjadi pelik posisi Demokrat. Ia sudah gembar-gembor anti korupsi, tapi kader utamanya justru dikait-kaitkan kasus korupsi. Menjadi menarik hajatan besar 2014, kikuk tidak Demokrat mengusung lagi jargon pemberantasan korupsi?

Mengutip ucapan Gus Dur yang terkenal, “Gitu aja kok repot”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>