Bangsa jongos

Bangsa jongos. Kata tersebut terdengar sarkastik tapi itulah kenyataan yang saya rasakan melihat negara kita tercinta Indonesia. Tanah tumpah darah kita. Jumlah orang miskin 30.02 juta orang menurut publikasi “Profil kemiskinan di Indonesia Maret 2011” oleh Badan Pusat Statistik. Total penduduk yang bekerja sebagai buruh adalah 32,521,517 demikian laporan BPS “Penduduk Menurut Jenis Kegiatan 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010” menyebutkan. Jumlah buruh adalah terbesar di antara jenis kegiatan lain dan memiliki kecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Bangsa jongos pengekspor babu

Pemerintah tidak punya malu lagi. Alih-alih mencerdaskan rakyatnya sehingga yang diekspor tenaga kerja profesional berpendidikan seperti di India, pendidikan dijadikan bisnis kapitalis dan dibuat berbiaya tinggi sehingga tidak terjangkau. Masuk kuliah? Anda harus siap-siap kocek puluhan juta rupiah. Tak heran tenaga kerja Indonesia mayoritas hanyalah kuli dan babu. “Adanya babu, ya kita ekspor saja babu”, mungkin demikian isi benak pengelola negara ini. Agar mentereng kita beri gelar pahlawan devisa sehingga tangis duka nestapa ketika babu-babu kita disiksa majikannya, dikejar-kejar oleh aparat keimigrasian, ditangkapi pihak berwenang negara tetangga, tinggal tak terurus di kolong jembatan di luar negeri bisa tertutupi.

Bangsa jongos dengan kekayaan alam melimpah

Indonesia selalu digembar-gemborkan sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah. Tapi apa kenyataannya? Perusahaan asing mengeruk kekayaan alam kita. Rakyat Indonesia hanya sebatas penonton atau maksimal sekedar kuli di perusahaan pertambangan bukan penentu kebijakan. Pemerintah menggandeng perusahaan asing dengan dalih Indonesia belum mampu mengelola sendiri kekayaan alamnya seolah menunjukkan mental jongos pemerintah kita. Di lain pihak, bagi hasil ekploitasi kekayaan alam itu sangat timpang dan tidak berpihak ke rakyat Indonesia sebagai pemilik kekayaan alam tersebut.
Tengok saja penduduk pedalaman Timika Papua dan bandingkan dengan bule-bule asing yang bekerja di Freeport. Kenapa pemerintah punya dalih bahwa Indonesia tidak sanggup mengelola sendiri kekayaan alamnya? Karena rakyat Indonesia bodoh. Kenapa rakyat Indonesia bodoh? Karena pemerintahnya tidak peduli pada pendidikan rakyatnya. Kenapa tidak peduli? Karena pemerintah ingin rakyatnya tetap bodoh?
Kenapa ingin rakyatnya bodoh? Agar mudah ditipu dan dimanipulasi sehingga kekayaan alam melimpah itu bisa dinikmati oleh negara asing dan segelintir penduduk Indonesia yang bekerja sebagai pengelola negara.

Bangsa jongos bagi dunia barat

Jika dulu Soekarno dengan berani mengatakan tidak pada dunia barat, kini tidak ada lagi orang besar di negara ini yang berani mengatakan hal yang sama. Pembangkang dunia barat seperti Soekarno jelas tidak bagus bagi kepentingan barat di Asia Tenggara apalagi Indonesia sangat potensial untuk diekploitasi kekayaan alamnya. Maka dibuatlah plot untuk menumbangkan Soekarno dan menggantikannya dengan orang yang lebih pro kepentingan barat seperti Soeharto. Sebagai balas jasa atas bantuan dunia barat, dibuatlah konsesi-konsesi ekploitasi alam yang tujuannya untuk menguntungkan dunia barat. Maka bercokol ragam perusahaan asing pengeruk kekayaan alam Indonesia.
Sebagai imbal jasa, Indonesia dipermudah memperoleh pinjaman ke dunia barat. Maka menumpuklah utang-utang hingga angkanya mencapai 214.5 milyar dolar AS menurut AntaraNews.com Utang Luar Negeri Indonesia Patut Dicermati pada Kamis 30 Juni 2011 lalu.
Dengan utang sebesar itu, entah sampai kapan kita jadi jongos.

Bangsa jongos tanpa martabat

Anda tahu kenapa koruptor bisa lenggang kangkung ke Singapura dengan santai? Karena kita tidak punya kekuatan untuk memaksa koruptor pulang ke Indonesia. Kenapa tidak bisa memaksa warga negara Indonesia pulang? Karena kita tidak punya perjanjian ekstradisi. Kenapa kita tidak punya perjanjian ekstradisi dengan Singapura? Karena kita tidak punya posisi tawar dengan Singapura. Kenapa kita tidak punya posisi tawar? Karena kita dianggap remeh oleh Singapura. Kenapa kita dianggap remeh? Karena kita jongos dunia barat.

Sedikit saja kita berani usik Singapura, dunia barat siap pasang badan bagi Singapura. Kenapa? Karena mengusik Singapura berarti mengusik kepentingan bisnis dunia barat di Singapura.
Jongos tidak boleh macam-macam terhadap juragan.

Lalu kita mau apa?

Bagaimana solusi agar menjadi Indonesia bangsa juragan? Entah dengan Anda, saya sangat geram dengan pemerintah kita. Jika boleh memilih, saya pilih revolusi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>