Bangsa bingung

Belakangan ini saya agak berusaha jaga jarak terhadap TV atau media cetak. Otak saya rasanya terlalu penuh oleh tontonan hiruk-pikuk panggung politik Indonesia yang konyol dan penuh kebingungan. Mencoba variasi acara lain pun sama saja. Yang ada tontonan sinetron dengan cerita bodoh dan membodohi pemirsanya. Maka tombol di piranti remote TV jadi sasaran kebingungan saya untuk mencari siaran bermutu. Pencet sana, pencet sini tiap kali saluran TV tampil tidak berkenan di hati. Segera saja omelan istri saya bergemuruh. Segera sesudah itu, perangkat TV di rumah saya pasti diam tak bersuara, tak bergambar.

Ia sama dengan saya. Diam. Bedanya, saya bingung, TV saya tidak.

Bingung hukum

Jika Anda bingung seperti saya, anda boleh bergembira karena anda memiliki kawan. Saya bingung dengan urusan KPK dan Nazaruddin. Bingung dengan omongan tipu sana – sini, bual sana-sini. Terlalu seringnya sampai, otak saya yang awam ini, rasanya kosong melompong seperti orang idiot karena terkuras isinya memikirkan kebingungan ini. Mana yang benar?

Politikus dan praktisi hukum, kalau Anda sering lihat di acara yang kadang diplesetkan sebagai Jakarta Liar’s Club, bicaranya muluk berbusa. Topiknya sudah jelas bahwa hukum harus ditegakkan. Saya sampai tertawa linglung karena bingung.

Lha, maling uang BLBI saja ketawa-ketiwi di luar negeri aman makmur sentosa, maling ayam bisa mati digebuki. Lalu mereka itu bicara keadilan hukum untuk siapa?

Bingung ekonomi

SBY berpidato, kemiskinan terus berkurang. Tapi di mana-mana, acara bagi-bagi uang (uang sumbangan, uang zakat, Bantuan Langsung Tunai) semua banjir pengunjung, tak jarang berakhir dengan anak-anak atau kaum tua renta terinjak-injak.

Bingung. Kalau kemiskinan berkurang, mengapa antrian bagi-bagi uang/sembako semakin panjang?

Bingung pendidikan

Anda tahu, UUD 45 kita mewajibkan pemerintah mengalokasikan 20% total APBN untuk dana pendidikan. Bingungnya saya: Apakah benar angka 20% itu ada? Jika anda tengok, sekolah-sekolah di luar pulau Jawa, bangunannya nyaris ambruk tak terurus. Bahkan anak-anak sekolah di Lebak Banten berjibaku menyeberang sungai dengan meniti kawat baja untuk pergi ke sekolah karena pemerintah daerah tersebut bingung bagaimana cara membuat jembatan.

Pemerintah kita bingung. Jika pendidikan diutamakan, kesejahteraan mungkin meningkat, tapi semakin orang cerdas, semakin orang jadi kritis. Semakin susah orang-orang di pemerintah menggelapkan uang negara. Semakin pintar rakyat, semakin susah rakyat dikibuli. Lalu bagaimana orang-orang di pemerintah, di badan legislatif, di badan yudikatif mengembalikan uang yang sudah mereka setor untuk menempati posisi karir mereka saat ini kalau peluang untuk maling uang negara semakin kecil karena rakyatnya semakin pintar?

Lalu apa rakyat dibuat tidak pintar? Bingung juga. Semakin rakyat bodoh, memang semakin gampang dikibuli. Tapi malah ketahuan nanti kalau kerjaannya cuma plesir jalan-jalan menghabiskan uang negara dan bukan mengurus rakyat.

Jadi bagaimana? Bingung?

Bingung kedaulatan

Bingung dengan kedaulatan kita. Apa sebenarnya kita masih berdaulat? Pemerintah kita gampang ditekan negara Barat. Barat sedikit keselek gara-gara teroris, Densus 88 langsung sergap turun tangan, berangus WNI yang diduga teroris. Giliran kita mau minta koruptor dipulangkan dari Singapura, pemerintah jadi macan ompong.

Pulau-pulau dan batas negara kita dicaplok. Singapura memperluas wilayah dengan menguruk pantainya dengan pasir yang diambil dari Batam. Pemerintah kita bukan berdiri di depan melawan, malah sibuk mengelak. Tidak ada pencaplokan, tidak ada perubahan batas negara dan lain-lain.

Bingung. Rasanya sekarang kedaulatan ada harganya dalam dollar.

Bingung kekayaan alam dan pemerataan pembangunan

Dulu, guru saya di sekolah selalu mengajarkan bahwa Indonesia itu sangat kaya oleh dari itu kami semua diajarkan harus bangga dengan Indonesia. Namun kemudian saya jadi bingung. Saya cukup lama menetap di tanah Papua sehingga saya cukup paham bagaimana kondisi nyata disana. Jika kita sebegitu kayanya, jika pulau Papua sangat kaya, kenapa penduduk Papua sangat terbelakang? Kemajuan pembangunan seret. Lalu kemana larinya kekayaan alam itu?

Yang menangguk untung kekayaan Papua sepertinya cuma perusahaan pertambangan milik bule. Fasilitas mewah dibangun di belantara Timika khusus untuk kenyamanan bule-bule yang bekerja di sana. Orang Papua cukup jadi penonton. Bingung. orang-orang pemilik sah kekayaan alam itu malah tidak dapat apa-apa, bahkan hanya untuk minta kenaikan upah, mereka harus berjibaku dengan tentara.

Bingung rasa aman

Anda tahu, rasa aman adalah hak azasi manusia. Anda bangun rumah karena Anda butuh rasa aman. Ketika Anda tidur atau bepergian, Anda ingin barang-barang milik Anda tidak diambil orang.

Kemana rasa aman? Kita bangun rumah dengan pagar tinggi penuh kawat duri untuk menghalau orang. Kita pasang terali baja di jendela-jendela rumah agar orang tidak sembarangan masuk. Kita menyewa petugas keamanan untuk menjaga rumah dan barang-barang milik kita. Sepertinya kita bukan membangun rumah. Kita membangun penjara.

Bingung. Penjara seharusnya untuk mengurung para kriminal. Tapi kita dengan kerelaan dan penuh kesadaran menginginkan diri kita dikurung dalam penjara yang kita sebut rumah. Bingung. Saat ini definisi penjara dan rumah saling rancu. Di penjara, Anda bisa hidup laksana di rumah atau di hotel, bepergian kemana pun Anda suka, bila Anda cukup punya uang. Tapi tinggal di rumah juga bisa jadi seperti di penjara.

Anda tahu kasus perkosaan di angkutan umum yang marak diberitakan beberapa waktu lalu? Punya anak perempuan saat ini membuat hati bingung dan was-was. Berharap cemas bahwa kejadian tersebut tidak menimpa anak kita. Lalu buat apa kita punya pemerintah kalau tidak bisa menjamin rasa aman warga negaranya.

Gubernur Jakarta bisa enak saja melemparkan tanggung jawab. Bahwa perkosaan itu disebabkan karena ada kesempatan. Bahwa perempuan yang jadi korban dianggap memberikan kesempatan terjadinya perkosaan (naik angkot malam-malam berpakaian seronok). Kasihan betul jadi perempuan, sudah jadi objek ekspoitasi seksual masih dipersalahkan karena memberikan kesempatan. Jadi kalau begitu untuk kasus perkosaan, yang bersalah adalah perempuan bukan pemerkosanya?

Lalu di mana tanggung jawab pemerintah untuk memberi rasa aman bagi warga? Bukankah ini berarti pemerintah gagal memenuhi hak dasar warga negaranya? Jika pejabat di luar negeri seperti Jpeang atau Korea langsung mengundurkan diri, pejabat kita bisanya saling tuding tanpa solusi.

Rasa aman juga sering lenyap ketika orang hendak bepergian. Mau lewat laut, kapal laut banyak yang tenggelam atau terbakar. Mau lewat darat, perusahaan jasa bis siap-siap mencabut nyawa anda. Bisa lebih naas, anda disundul kereta api terguling. Lewat udara? Tidak jauh berbeda, maskapai udara siap jadi jagal.

Lalu apakah lebih aman berdiam saja di rumah? Jangan buru-buru senang. Tabung gas di rumah anda mungkin perlu sering anda cek. Di tempat lain, tabung ini lumayan untuk terkenal sebagai jagal. Apa lagi ditengah minimnya fasilitas pemadam kebakaran di kawasan pemukiman padat penduduk.

Negara bingung mau kemana

Pemerintah mengelola negara seolah-olah tidak ada masalah. Tidak ada visi besar yang hendak dibangun oleh pemerintah. Problem-problem hanya diselesaikan secara reaktif dan sekedar tambal sulam. Kalimat “mau jadi apa negara ini” seolah buram. Dengan teritori laut luas apa mau jadi bangsa maritim? Sepertinya bukan. Industri kelautan tidak dikelola dengan baik. Jumlah industri kapal bisa dihitung dengan jari. Jumlah kekayaan alam laut yang dicuri tetangga sangat banyak. TNI matra laut kekurangan alutsista. Tidak sebanding dengan luas laut yang harus dijaga. Nelayan lokal tidak dilindungi selayaknya.

Mau jadi negara agraris? Sepertinya juga bingung. Lahan-lahan sawah semakin sempit karena tergerus pembangunan mal, apartemen mewah, perumahan. Pertanian lokal tidak dilindungi dan diperkuat. Industri pertanian lemah karena minimnya tenaga ahli terjun ke pertanian. Harga pupuk dan benih tak terjangkau sementara impor hasil pertanian semakin mudah. Terima kasih untuk kebijakan AFTA.

Mau jadi negara industri? Masih jauh api dari panggang.

Sementara negara tampak suram bingung mau jadi apa, Presiden bingung rombak kabinet. Politisi bingung putar otak buat 2014. Koruptor bingung cari akal agar KPK bubar. Sementara kita, rakyat kecil bingung cari makan, sekedar supaya besok dapur masih ngebul ditengah lonjakan harga barang.

Kita semua bingung.

One thought on “Bangsa bingung

Leave a Reply to arpatonis Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>